Tampilkan postingan dengan label Salatiga. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Agustus 2011

Polres Segera Tetapkan Tersangka Dugaan Penyimpangan Perpustakaan

Polres Salatiga akan segera menetapkan tersangka, dalam kasus dugaan penyimpangan proyek pembangunan perpustakaan SMAN 3 Salatiga.
Saat ini Polres masih menunggu hasil audit untuk mengetahui berapa kerugian negara yang ditimbulkan dari proyek senilai Rp 148,2 juta tersebut.
Proyek tersebut dilaksanakan pada tahun anggaran 2010 dan dananya berasal dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Salatiga.
Kapolres Salatiga AKBP Drs Kusdiantoro SH mengatakan, pihaknya sudah memiliki data dan bukti terkait pembangunan perpustakaan SMAN 3, hanya tinggal menunggu hasil auditnya saja. “Calon tersangka sudah ada,” tandas Kapolres, tatkala ditemui para wartawan saat gelar perkara di Mapolres pekan lalu.
Namun, saat didesak siapa calon
tersangka tersebut, perwira menengah yang pernah bertugas di Polda Jatim, Polda Metro Jaya, Polda Jateng dan Akpol itu enggan menjawab.
"Tunggu saja nanti," tandas Kapolres.
Sejauh ini berdasarkan data, untuk kasus dugaan penyimpangan proyek pembangunan perpustakaan SMAN 3, Penyidik Unit Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Polres Salatiga telah memeriksa paling tidak sembilan orang untuk dimintai keterangannya. Mereka berasal dari lingkungan PNS Pemkot Salatiga, baik itu Pejabat Pembuat Komitmen (PPKom), panitia dan panitia pengawas serta dari pihak rekanan.
Apresiasi Sementara itu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Salatiga, melalui Ketua Akhmad Ilman Nafia, turut mendesak agar aparat hukum, baik itu Polres atau Kejaksaan Negeri Salatiga, melakukan upaya tindakan
proaktif dalam mengusut tindakan korupsi yang terjadi di Salatiga. Juga agar menghindari kompromi transaksional dan tidak tebang pilih dalam penanganan sebuah kasus. HMI memberikan apresiasi kepada Polres Salatiga, yang saat ini tengah melakukan penyidikan dugaan penyimpangan pembangunan perpustakaan SMAN 3 dan penyelidikan dugaan penyimpangan di PSISa Salatiga. (H53,H32-72)
read more

Kamis, 04 Agustus 2011

PENGAJIAN AKBAR DI SEMBIR SALATIGA





Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Salatiga menggelar pengajian akbar di Masjid Al Ikhlas Sarirejo, Kelurahan Siorejo Lor, Kecamatan Sidorejo, belum lama ini. Menghadirkan dua penceramah ustadz Rofik Santoso dan Ustadz Fahmi Asy’ari yang juga anggota DPRD Kota Salatiga.
Rofik Santoso mengatakan, senang dan bahagia itu berbeda, semakin kita mencari kesenangan maka sebaliknya justru kita akan jauh dari kebahagiaan.
Ada tujuh kunci kebahagiaan, yaitu sabar, syukur, sederhana, banyak memberi maaf, berderma, penuh cinta kasih, dan pasrah.
Sedang Ustadz Fahmi Asy’ari menghimbau kepada masyarakat muslim Sarirejo pada khususnya untuk senantiasa menjaga syukur. Kesempatan menjalankan puasa merupakan sesuatu hal yang luar biasa mengingat banyak yang tidak bisa atau belum bisa menjalankanya. Untuk itu wujud syukur sebagai muslim adalah menjalankan puasa dengan sebaikbaiknya. (H32-72
read more

Senin, 01 Agustus 2011

PENDIDIKAN NASIONAL DAN BOBROKNYA NEGERI INI (Oleh : Akhmad Ilman Nafi’a, S.Pd.I)

Dalam UUD 1945 tentang pendidikan yang dituangkan dalam Undang-Undang No. 20, Tahun 2003. Pasal 3 menyebutkan, "Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Tujuan pendidikan diatas merupakan tolak ukur keberhasilan pendidikan di Indonesia, dimana pendidikan memiliki arti penting dalam perkembangan sumber daya manusia dan pembentuk watak peradaban yang dijiwai asas-asas religiusitas seperti akhlak mulia dan ketaqwaan, pendidikan merupakan grass root peradaban di suatu negeri, pendidikan sebagai fundamen terbentuknya karakter kebangsaan dan pembentuk kebudayaan yang utama. Sebagai analogi sederhana apabila akar dalam sebuah pohon dalam hal ini adalah pendidikan kita masih rawan terhadap penyakit atau sejenisnya maka, batang ataupun buah dalam hal ini adalah peradaban dan kebudayaan juga sama akan sakit dan bahkan roboh, dalam hal ini out-put pendidikan kurang memiliki makna dan degradasi nilai (value).
Pendidikan sebagai akar pembentuk karakter kebangsaan seharusnya mampu membentuk manusia berpendidikan yang berpotensi dan berkualitas dengan didasari keimanan dan ketaqwaan terhadap tuhan YME, sehingga produk pendidikan dalam hal ini berujung pada implikasi yang baik terhadap kemajuan negeri ini, bukan suatu hal yang utopis ketika berharap pendidikan Indonesia mampu membentuk insan yang berkualitas seperti yang tecantum pada tujuan pendidikan diatas, karena pada dasarnya pendidikan adalah sebagai tolak ukur kemajuan bangsa ini, semakin baik pendidikan di sebuah negeri maka akan membentuk Negara yang maju dan bermartabat.
Masalah yang saat ini muncul adalah, Sejauhmana kualitas pendidikan di Indonesia?, tentunya seperti yang tercantum di atas indikator keberhasilan pendidikan dapat dilihat dari (1) kebudayaan yang memiliki karakter kebangsaan, (2) Peradaban bangsa yang memiliki corak akhlakul karimah, dan (3) kemampuan bangsa dalam mengatasi masalah kebanngsaan (ekonomi, sosial, politik), ketiga indikator ini memiliki linieritas dengan tujuan pendidikan nasional di atas, sehingga jika ketiga indikator ini sudah terimplementasikan dengan baik, maka penulis bisa memberikan kesimpulan bahwa pendidikan di Indonesia juga sudah berlangsung baik, sebaliknya jika ketiga indikator diatas belum sepenuhnya terimplementasikan maka, rumusan atau sitem pendidikan di Indonesia juga masih jauh dari keberhasilan, dan harus dilakukan evaluasi yang mendalam dalam system pendidikan yang saat ini dijalankan.
Indikator pertama disebutkan bahwa terciptanya kebudayaan yang memiliki karakter kebangsaan, artinya pendidikan sebagai transformer (pusat transformasi ilmu) harusnya mampu membentuk peserta didik berkualitas kebudayaan yang memiliki karakter kebangsaan, kita melihat sisi yang mudah terlihat dalam kehidupan keseharian kita, saat ini banyak anak baru gede (ABG), jika dalam strata pendidikan adalah sekolah menengah ke atas, remaja putri dengan celana pendek selangkang, baju transparan super ketat telah menjadi trend yang membudaya menggusur nilai-nilai ketimuran yang telah lama menjadi karakter kebangsaan bangsa kita, dalam lingkup sosial pertunjukan dangdut dengan biduan “telanjang” bukan lagi menjadi hal yang tabu untuk di pertontonkan, bahkan saat ini telah beredar meluas dengan bentuk kepingan berharga murah, bahkan lebih murah dari buku IQRO’ (Baca tulis Al-Qur’an), dan penulis yakin pembaca bisa lebih banyak memberikan contoh kehidupan sejenis yang lain. Hal ini terlihat jelas bahwa kebudayaan saat ini sedang dalam masa transisi dari kebudayaan berkarakter kebangsaan menjadi kebudayaan berkarakter barbarianism.
Indikator kedua disebutkan bahwa terciptanya peradaban yang memiliki corak akhlakul karimah, artinya produk dari kebudayaan yang memiliki nilai-nilai keluhuran sikap, kedewasaan berfikir, toleransi, religius dan memiliki kemampuan untuk membangun bangsa dengan jiwa yang tulus dan ikhlas, sehingga terwujud masyarakat yang memiliki kemampuan akademis, pencipta, pengabdi yang berlandaskan Agama, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridloi Tuhan Yang Maha Esa, selanjutnya dengan masyarakat yang seperti itu akan membentuk peradaban yang luhur dan berimbas kepada pemerintahan yang bersih (clean government) dan pemerintahan yang di harapkan masyarakat Indonesia, tanpa korupsi, kolusi dan praktik-praktik setaniyah sejenisnya. Akan tetapi melihat realita yang terjadi ternyata korupsi dan praktik sejenisnya masih berkembang pesat di negeri ini, bahkan belum ada Klaim secara jelas tentang instansi yang bebas dari korupsi, ini menunjukan bahwa belum ada insatansi di Indonesia yang benar-benar bebas korupsi.
Indikator ketiga disebutkan bahwa kemampuan bangsa dalam mengatasi problem kebangsaan, permasalahan ketenagakerjaan Indonesia dengan peristiwa yang baru saja menimpa TKI yang dihukum pancung di luar negeri, system kontrak pada buruh dan tidak adanya jaminan kesejahteraan, dalam hal perekonomian meskipun sering kita dengar mengalami peningkatan daripada Negara lain namun tetap saja rakyat belum merasakan dampaknya secara langsung, biaya hidup semakin mahal, pemerkuat ekonomi kerakyatan seperti pasar tradisional telah tergusur oleh swalayan-swalayan investor asing yang notabene menguntungkan pengusaha besar dan semakin memperkecil ruang bagi usaha mikro kecil menengah, dalam hal keagamaan lahirnya berbagai macam aliran yang diklaim sesat sehingga memunculkan konflik keyakinan, bahkan adanya pelarangan terhadap kelompok yang diduga akan memperjuangkan syariat Islam di Negara Indonesia, kasus terorisme, dalam hal pendidikan kurikulum yang berubah-ubah tanpa dinamisasi, manipulasi nilai untuk mempertahankan citra sekolah sudah menjadi hal yang umum dan biasa, pendidikan agama hanya berhenti pada tatataran teoritis tanpa adanya upaya pembentukan dalam hal praktis semakin memperburuk kondisi pendidikan Indonesia dan yang paling memperburuk keadaan Negara ini adalah suasana politik Negara yang tidak stabil, disorientasi, saling jegal, saling mempersalahkan, sehingga kepentingan rakyat menjadi terabaikan dan bahkan terlupakan.
Pendidikan Indonesia seharunya menjadi fokus utama untuk memajukan bangsa ini, saatnya pendidikan di Indonesia bangkit, tanpa manipulasi, menjunjung tinggi intregitas, memfokuskan pembentukan karakter praktis daripada teoritis, pendidikan yang membangun semangat juang nasionalisme, dan pendidikan yang mengutamakan nilai-nilai keagamaan sebagai dasar dan tujuan pendidikan secara khusus, sehingga pendidikan di Indonesia mampu mencetak manusia yang memiliki kemampuan untuk membawa negeri ini lebih baik dan bermartabat.
Hal ini menjadi evaluasi bagi kita semua, pendidikan memiliki arti penting dalam kemajuan bangsa ini, semoga pendidikan di Indonesia kedepan lebih baik dan akan berimbas pada kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat salatiga. Amiin.




BIODATA

Nama : Akhmad Ilman Nafi’a
TTL : Semarang, 09 Desember 1985
Alamat : Sejambu, Rt 04. Rw 05, Desa Kesongo, Kecamatan Tuntang, Kab. Semarang
Riwayat Pendidikan :
1. SD KESONGO III
2. SLTP N 2 TUNTANG
3. SMK MUHAMMADIYAH SALATIGA
4. STAIN SALATIGA
5. PASCA SARJANA UMS
Pengalaman Organisasi
1. Ketua Umum HMI Cabang Salatiga Komisariat Walisongo (Periode 2007-2008)
2. Ketua Umum HMI Cabang Salatiga (Periode 2010-2011)




Hormat Kamai



Akhmad Ilman Nafi’a, S,Pd.I
read more

Kamis, 14 Juli 2011

HMI CABANG SALATIGA GAGAL AKSI

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Salatiga akhirnya membatalkan rencana aksi unjuk rasa pada saat pelantikan Wali Kota Yuliyanto SE MM dan Wawali H Muh Haris SS MSi, Senin (11/7). Hal itu karena pihak Polres Salatiga mengeluarkan larangan aksi atau sterilisasi pada saat pelantikan yang dilakukan Gubernur Jateng H Bibit Waluyo.
Ketua Umum HMI Cabang Salatiga Akhmad Ilman Nafia mengatakan, sebenarnya HMI mengagendakan untuk turun ke jalan, saat Yuliyanto dan Muh
Haris dilantik. Sayangnya saat mengirimkan surat pemberitahuan aksi ke Polres Salatiga pada hari Jumat (8/7), pihak Polres menyatakan bila hari Senin (11/7) diberlakukan larangan aksi turun ke jalan.
“Akhirnya kami membatalkan rencana aksi saat pelantikan Wali Kota dan Wawali yang baru,” terang Akhmad Ilman.
Menurutnya, larangan itu dinilai sangat aneh dan membuat kader-kader HMI merasa kecewa.
Pasalnya aksi tersebut sudah direncanakan jauh hari sebelum Kota Salatiga menggelar Pilwalkot 2011.
Mengagetkan Dimana dalam agenda HMI Cabang Salatiga, siapa pun yang jadi pemenang Pilwalkot 2011, kader HMI akan turun ke jalan saat pelantikan berlangsung.
Bagi HMI, kejadian itu merupakan hal yang mengagetkan, karena selama ini mereka belum pernah mengalami kejadian tersebut, hingga aksi dibatalkan.
Kecuali dulu di saat era Orde Baru dengan militerismenya. Tapi meski begitu, mereka bisa memaklumi hal tersebut.
Pelantikan Wali KotaWawali Salatiga sendiri berlangsung di bawah penjagaan ketat ratusan aparat.
Setidaknya diterjunkan 405 personel gabungan dari Polres Salatiga, TNI, Satpol PP, Kesbangpollinmas dan Dishubkombudpar. Bahkan puluhan personel Brigade Mobil (Brimob) Polda Jateng bersenjata lengkap juga disiagakan di kompleks Balai Kota. Juga dua kendaraan taktis turut dikerahkan dan diparkir di halaman Mapolres dan Balai Kota Salatiga.
Kapolres Salatiga AKBP Drs Kusdiantoro SH mengemukakan, Polri memang siap dalam mengamankan pelaksanaan pelantikan Wali Kota dan Wawali. Pihaknya juga berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung, sehingga tercipta suasana yang kondusif di Kota Salatiga. (H53,H32-14)
read more

Minggu, 03 Juli 2011

REUNI AKBAR HMI

read more

Jumat, 06 Mei 2011

HMI Desak Serangan Fajar Dihentikan

SIDOREJO - HMI menggelar unjuk rasa menyikapi pelaksanaan Pilwalkot Salatiga 2011 di kawasan bundaran Tamansari. Perhimpunan mahasiswa itu mendesak serangan fajar yang dilakukan pasangan calon wali kota maupun tim suksesnya supaya dihentikan. Sebab, Pilwalkot Salatiga dinilainya masih rawan politik uang bermodus serangan fajar. 

Ketua Umum HMI Cabang Salatiga Akhmad Ilman Nafi’a mengatakan, politik uang dalam pemilu di Indonesia telah membudaya.

Hal ini juga dinilai telah merusak adanya sebuah demokrasi. Sejauh ini, pihaknya telah mengendus tim pemburu suara yang akan bergerak di sejumlah wilayah di Salatiga. Mereka nantinya bakal memberikan amplop berisi uang dengan imbalan memilih pasangan calon tertentu.

Menurut dia, serangan fajar ini memiliki motif menggoyahkan pilihan masyarakat yang akan memberikan hak pilihnya. ”Hal ini bisa mempengaruhi hati nurani calon pemilih dalam menentukan sikapnya saat Pilwalkot. Hingga akhirnya, mereka memilih pasangan calon dengan pertimbangan nilai uang dalam amplop yang paling besar,” katanya.

Menolak

Apabila hal ini memang terjadi, pihaknya mengajak pemilih supaya menolak pemberian amplop tim pemburu suara tersebut. Jika memang tak bisa menolak, maka pemilih supaya tetap mengukuhkan hati untuk memilih pasangan calon sesuai hati nurani. Satu hal yang juga menjadi perhatian yaitu budaya golput (tak menggunakan hak pilih) dalam pemilu.

”Kami mengimbau kepada pemerintah beserta DPR supaya segera mengevaluasi undang-undang perpolitikan di Indonesia. Ini karena UU yang ada sekarang ini masih memicu kerawanan budaya politik uang dan golput,” tambahnya. Oleh sebab itu, pemilih diajak untuk bisa menjalankan demokrasi dengan baik. Memilih adalah hak, sedangkan menentukan pilihan yang baik merupakan kewajiban. (J17-14)
read more

Senin, 28 Februari 2011

Pelantikan HMI Cabang Salatiga Periode 2010-2011

SIDOMUKTI- Meski hanya dihadiri dua orang calon, tetapi pelaksanaan Ngobrol Bareng Kandidat Wali Kota dan Wakil Wali Kota, yang digelar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Salatiga, Sabtu (26/2) tetap berjalan gayeng, meriah dan diwarnai derai canda tawa.

Dua kandidat yang datang adalah H Bambang Soetopo SH, calon wali kota (Cawali) yang diusung koalisi Partai Keadilan dan Persatuan Indo­nesia (PKPI) dan Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN). Serta duet Yuliyanto SE MM-H Muham­mad Haris SS MSI (Yaris) yang diusung PIS-PKS-PPP dan Partai Demo­krat.

Dalam acara yang digelar di Graha Korpri Kota Salatiga itu, baik Bambang Soetopo atau Yaris, mengemukakan program-program mereka. Bam­bang Soetopo yang juga Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Salatiga itu mengusung program Gerakan Salatiga Sejahtera.
Menurutnya, gerakan tersebut telah mencakup semua aspek dan bidang kehidupan kota dan masyarakat Salatiga. Terutama memberdayakan roda perekonomian masyarakat kecil seperti pasar tradisional. Juga peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan.

 “Gerakan Salatiga Sejahtera memang bertujuan untuk memeberdayakan ma­syarakat dan meningkatkan kesejahteraan,” tandas Soetopo.

Banyak Konsep

Sedangkan Yaris, juga tidak mau kalah dalam mempromosi­kan visi misi mereka. Yuliyanto mengemukakan, bila Yaris akan mentaati segala ketentuan dan aturan jika dipercaya me­mimpin Salatiga.

Sebagai orang asli Salatiga, dirinya memiliki banyak konsep dan program untuk membuat Salatiga menjadi lebih baik dan sejahtera. Haris menambahkan, agenda reformasi di segala bidang yang lama diperjuangkan harus terealisasi di tataran Kota Salatiga demi terwujudnya kesejahteraan untuk masyarakat Salatiga.
Berbagai elemen masyarakat hadir dalam kegiatan yang dimoderatori Drs Hammam MPd dari STAIN Salatiga de­ng­an Jefferson Kameo SH LLM dari UKSW selaku panelis.

Ketua HMI Cabang Sa­la­tiga Ilman Ahmad Nafi’a mengaku sangat kecewa dengan tidak hadirnya dua calon yang lain, yakni Ir Hj Diah Sunarsasi-Milhous Teddy Sulistio SE (Dihati) dan H Bambang Supriyanto SH MM-Ir Hj Adriana Susi Yudhawati MPd (Basis).

“Bagaimana pun, ini merupakan ajang untuk menyosialisasikan visi dan misi mereka, tidak hanya kepada kami melainkan kepada semua ma­sya­rakat Salatiga,’’tegas Ilman Ahmad Nafi’a usai kegiatan  (Suara Merdeka, H53,J17-14)
read more

Jumat, 07 Januari 2011

DESAK PEMBERANTASAN KORUPSI DI SALATIGA

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Salatiga mendesak aparat penegak hukum segera menuntaskan kasus dugaan korupsi pengadaan gedung laboratorium bahasa SMAN 1 Salatiga.
Sejak dilaporkan tahun 2006 silam, menurut mereka, hingga kini aparat belum menetapka tersangka dalam proyek senilai Rp 1,3 miliar. Desakan itu disampaikan HMI melalui aksi unjuk rasa yang diikuti 20-an anggotanya, Kamis (27/1)


.
Selain itu, HMI juga menuntut Kejari segera menyatakan P21 (lengkap)  berkas perkara tiga tersangka kasus dugaan korupsi buku ajar senilai Rp 17,6 miliar yakni Sri Wityowati, Mardiono dan Sartono, seperti halnya berkas kasus yang sama dengan  terdakwa Sutejo. “Lambannya pengusutan kasus-kasus korupsi secara nasional belakangan juga menular ke Salatiga,” papar Ketua HMI Cabang Salatiga, Akhmad Ilman Nafi'a 

HMI pun menyoroti dugaan korupsi pembelian tanah fiktif SDN Kutowinangun yang mengakibatkan kerugian negara sekitar Rp 1,3 miliar. HMI menuntut penyidik meningkatkan status perkara tersebut menjadi penyidikan. Unjuk rasa dimulai dari kampus STAIN Salatiga dilanjutkan dengan long march ke Bundaran Tamansari dan berakhir di Gedung DPRD. Beberapa anggota DPRD menemui pendemo
read more
Blogger Template by Clairvo